Laporan EoDB Bank Dunia Dimanipulasi, Indikator Investasi RI Harus Diubah dan Lebih Berkualitas

Laporan EoDB Bank Dunia Dimanipulasi, Indikator Investasi RI Harus Diubah dan Lebih Berkualitas

Laporan EoDB Bank Dunia Dimanipulasi, Indikator Investasi RI Harus Diubah dan Lebih Berkualitas

Jakarta: Pemerintah Indonesia disarankan untuk mengubah indikator kemudahan berusaha yang lebih berkualitas dibandingkan dengan hanya menggunakan data Bank Dunia. Apalagi setelah adanya laporan yang menyebut Bank Dunia telah melakukan manipulasi data Ease of Doing Business (EoDB).

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan pemerintah perlu mengevaluasi saran Bank Dunia terhadap reformasi perizinan di Indonesia selama ini. Menurutnya harus ada indikator lain untuk melihat kemudahan berusaha di Indonesia.

Asosiasi Dukung Penguatan Produk Lokal Industri Penunjang Migas

Bantu UMKM, JIEP Salurkan Modal Usaha Rp315 Juta

Giliran Sektor Konsumer Topang Kenaikan IHSG

Asyik, THR bagi ASN Sudah Cair Rp9,78 Triliun

Memasuki Usia 25 Tahun, 2 Hal ini Harus Sudah Diperoleh

Memasuki Usia 25 Tahun, 2 Hal ini Harus Sudah Diperoleh

"Misalnya soal Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang dasarnya adalah ingin mencapai kenaikan ranking EODB. Berarti target keberhasilannya sekarang dengan skandal EODB harus diubah dengan indikator lain yang lebih berkualitas," kata dia, kepada Medcom.id, Senin, 20 September 2021.

Ia mencontohkan salah satu yang bisa dilihat pemerintah adalah serapan tenaga kerja yang dihasilkan setelah adanya UU Cipta Kerja. Apabila serapan tenaga kerjanya rendah berarti reformasi yang dilakukan pemerintah melalui UU Cipta Kerja belum berhasil, sehingga perlu dievaluasi lebih lanjut.

"Misalnya indikator reformasi regulasi terhadap serapan tenaga kerja. Kalau UU Cipta Kerja mau dievaluasi, cek saja investasi yang masuk usai UU Cipta Kerja disahkan, bagaimana kualitas serapan kerjanya? Kalau rendah berarti gagal reformasi regulasinya," ungkap dia.

Bhima menambahkan indikator perbaikan lainnya adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang saat ini masih berada di atas level 6. Menurutnya, ICOR juga menjadi perbandingan efisiensi investasi antar negara yang relevan dan bisa juga terus konsisten memperbaiki biaya logistik yang berada di level 23.5.

"Indikator labor productivity atau produktivitas tenaga kerja tidak kalah penting untuk meningkatkan daya saing. Tanpa EODB sebenarnya banyak indikator lain yang bisa dijadikan benchmark dalam menarik investasi khususnya investasi langsung," tuturnya.

Sementara itu, Bank Dunia memutuskan untuk menghentikan sementara laporan Doing Business berikutnya dan memulai serangkaian tinjauan serta audit atas laporan dan metodologinya. Keputusan untuk menghentikan setelah ada penyimpangan data Doing Business 2018 dan 2020 yang dilaporkan secara internal pada Juni 2020.

"Selain itu, karena laporan internal mengangkat masalah etika, termasuk perilaku mantan pejabat dewan serta staf Bank Dunia saat ini dan/atau mantan, manajemen melaporkan dugaan tersebut ke mekanisme akuntabilitas internal Bank Dunia yang sesuai," ungkap Bank Dunia.

Di sisi lain, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva membantah tuduhan bahwa dia menekan staf Bank Dunia untuk mengubah data guna mendukung Tiongkok selama menjabat sebagai CEO Bank Dunia. Bantahan itu dilontarkan ketika Dewan Eksekutif IMF meluncurkan tinjauan resmi tentang masalah tersebut.

"Biarkan saya menjelaskannya secara sederhana kepada Anda. Tidak benar. Baik dalam kasus ini, maupun sebelum atau sesudahnya, saya telah menekan staf (Bank Dunia) untuk memanipulasi data (Tiongkok)," pungkas Georgieva.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *