Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang Kekuatan Ekonomi Amerika Serikat dalam Kacamata Hegemoni dan Soft Balancing

Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang Kekuatan Ekonomi Amerika Serikat dalam Kacamata Hegemoni dan Soft Balancing

Abstrak Bitcoin merupakan salah satu cryptocurrency yang terkenal sejak 2013 diseluruh dunia dimana konsepnya adalah P2P atau terdesentralisasi antar server user dalam sebuah jaringan. Nilai tukat Bitcoin terus meningkat seiring permintaan dari seluruh dunia, termasuk Tiongkok sebagai salah satu negara dengan transaksi ekonomi terbesar di dunia. Lebih dari 50% transaksi Bitcoin dunia dilakukan melalui cryptomarket asal Tiongkok. Selain itu, Tiongkok juga menjadi negara dengan industri mining pool Bitcoin terbesar di dunia. Hal tersebut menjadikan Tiongkok sebagai negara dengan nilai perputaran Bitcoin terbesar di dunia. Besarnya arus perputaran Bitcoin di Tiongkok tampaknya menjadi ancaman tersendiri bagi Pemerintah Tiongkok sehingga pada September 2017, Pemerintah Tiongkok mengeluarkan kebijakan pelarangan transaksi ICO dan menutup BTCC yang merupakan salah satu cryptomarket Bitcoin terbesar di dunia. ICO dapat diartikan sebagai konsep investasi cryptocurrency dengan tujuan crowd funding. Sebulan setelah mengeluarkan larangan transaksi ICO, Pemerintah Tiongkok justru mengumumkan rencana Pemerintah Tiongkok untuk mengembangkan dunia blockchain (cryptocurrency) sendiri. Penelitian ini menjelaskan alasan kebijakan pemerintah Tiongkok terkait pelarangan ICO dan penutupan BTCC namun justru mengembangkan cryptocurrency sendiri menggunakan konsep hegemoni dan soft balancing dalam pendekatan realisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah Tiongkok yang melarang ICO dan penutupan BTCC merupakan langkah yang diambil dalam upaya Tiongkok untuk menyeimbangi Amerika Serikat sebagai negara berpengaruh di bidang ekonomi di dunia. Kata kunci: Bitcoin, Tiongkok, ICO, hegemoni, soft balancing

Discover the world's research

  • 20+ million members
  • 135+ million publications
  • 700k+ research projects

1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, Indonesia, [email protected] com

konsepnya adalah P2P atau terdes entralisasi antar server user dalam sebuah jar ingan. Nilai tukar Bitcoin terus

meningkat seiring permintaan dari seluruh dunia, termasuk Tiongkok sebagai salah satu negar a dengan transaksi

ekonomi terbesar didunia. Lebih dari 50% transaksi Bitcoin dunia di lakukan melalui cryptomarket asal

Tiongkok. Selain itu, Tiongkok jug a menjadi negara dengan industri mining pool Bitcoin terbesar d idunia. Hal

tersebut menjadikan Tiongkok sebagai negara dengan nilai perputaran Bitcoin terbesar didunia. Besarnya arus

perputaran Bitcoin di Tiongkok tampaknya menjadi ancaman tersendiri bagi Pemerintah Tiongkok sehingga

pada September 2017, Pem erintah Tiongkok m engeluarkan kebijakan pelarangan transaksi ICO dan menutup

BTCC yang merupakan salah satu cryptomarket Bitcoin terbesar d idunia. ICO dapat diartikan sebagai konsep

investasi cryptocurrency dengan tujuan crowd fund ing . Sebulan setelah mengeluarkan larangan transaksi I CO,

blockchai n ( cryptocurrency ) sendiri. Penelitian ini menjelaskan alasan kebijakan pemerintah Tiongkok terkait

konsep hegemoni dan soft balancing dalam pendekatan rea lisme. Hasil penelitian m enunjukkan bahwa kebijakan

P2P or decen tralized between user servers in a network. Bitcoin exchange rates continue to in crease as dema nd

from all over the world, including China as one of the countries with the largest economic transactions in the

world. More than 50% of the world's B itcoin transaction s are carried out throu gh cryptomarket from China. In

addition, China is a lso the country with the world's largest Bitcoin mining pool industry. This makes China to be

the country with the largest B itcoin turnover in the world. The large circulation of Bitcoin in China seems to be

prohibiting ICO transactions and closing the BTCC which is one of the largest Bitcoi n cryptomarket in the

world. ICO can be interpreted as a cryptocurrency investment con cept with the goal of crowd fund ing. A month

after issuing a ban on ICO transactions, the Chinese Government announced the Chinese Government's plan to

government's policies related to the ICO ban and B TCC closure but instead developed its own cryptocurrency

using the concept of hegemony and soft balancing in the realism ap proach. The results sh ow that the Chin ese

government's policy that prohibits ICO and BT CC closure is a step taken in Chi na's efforts to bala nce the United

106 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

107 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimban g

108 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

109 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

110 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

111 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

( https://cointelegraph.com/news/almost-5-new- cryptocurrency -atms-installed-worldwide- each -day-data-shows )

112 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

113 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

114 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

115 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

116 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

117 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

118 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

119 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

120 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

121 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bi tcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

122 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

123 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

124 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

125 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

126 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

127 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

128 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

129 Pungki Retnowati dan Ika Riswanti Putranti | Bitcoin vis a vis NEO: Upaya Tiongkok menuju Penyeimbang

An integrative currency area that is able to unify countries with different levels of labor productivity leads to a global currency area with only one currency. In such a scenario, the reserve money system would obviously disappear. This concept, linked with the correct view that money is a receivable for labor done, offers a new vision of globalization. This paper considers the necessary fundamentals of a global currency area and a post-exchange rate world economy. The study explores a new financial framework as well as the significance of the labor productivity ratio in macroeconomic control.

  • Aug 2013

This paper analyzes the reasons and effects of the Chinese exchange rate reform (Yuan appreciation), explained and assess Hu Xiaolian’s (deputy governor of the People's Bank of China and the former director of the State Administration of Foreign Exchange in China) claims about the reform of China exchange rate system. The paper also explores the possibility of the Chinese Yuan becoming a regional trade currency. A summary with key point is also provided.

  • Jun 2018

Since World War Two, the United States dollar became and remains the global reserve currency. This status in international trade and investment has given the US the ability to exercise hegemonic power around the world. In recent years, there have been attempts by competitor nations notably China, Russia, and Iran to replace the dollar's exclusivity in bilateral trade. Their intention is to undermine the ability of the US to continue as the world's hegemon. It is argued that this outcome is unlikely to be achieved in the near term, because of the continuing reliance on the US dollar.

  • Apr 2014
  • Global Crime
  • Jul 2005
  • INT SECURITY

The George W. Bush administration's national security strategy, which asserts that the United States has the right to attack and conquer sovereign countries that pose no observable threat, and to do so without international support, is one of the most aggressively unilateral U.S. postures ever taken. Recent international relations scholarship has wrongly promoted the view that the United States, as the leader of a unipolar system, can pursue such a policy without fear of serious opposition. The most consequential effect of the Bush strategy will be a fundamental transformation in how major states perceive the United States and how they react to future uses of U.S. power. Major powers are already engaging in the early stages of balancing behavior against the United States, by adopting soft-balancing measures that do not directly challenge U.S. military preponderance but use international institutions, economic statecraft, and diplomatic arrangements to delay, frustrate, and undermine U.S. policies. If the Bush administration continues to pursue aggressive unilateral military policies, increased soft balancing could establish the basis for hard balancing against the United States. To avoid this outcome, the United States should renounce the systematic use of preventive war, as well as other aggressive unilateral military policies, and return to its traditional policy governing the use of force-a case-by-case calculation of costs and benefits.

  • May 2003

In the past several years, Chinese analysts have acknowledged that the United States possesses a vast amount of power and influence, which has allowed it to act in arrogant and often aggressive ways, and has fueled its ambitions of achieving global hegemony. While many PRC authors attribute to the US a coherent grand strategy of world domination, others have followed and assessed the debates that pervade US foreign policy-making, analyzed the nature of American hegemony, and critiqued the theoretical discussions on the subject carried out in US political science journals. Chinese analysts see both strengths and weaknesses in American hegemony, for while the country currently has superior comprehensive national power, there are also vulnerabilities in its economic and military strength, as well as in its relations with its allies. The views of Chinese authors are not uniform on the subject of US hegemony, however, for some believe that the US already is a hegemon, while others view America as a superpower seeking hegemony, or argue that the nation simply displays hegemonic behavior. Consequently there are several different schools of thought on the characteristics of US hegemony, as well as its tactics, goals and manifestations.

  • Jan 2018

CipherTrace Cryptocurrency Intelligence. (2018 ). Cryptocurrency Anti Money Laundring Report. CipherTrace.

  • G Dirzauskaite
  • N C Ilinca

Dirzauskaite, G., & Ilinca, N. C. (2017). Understanding "Hegemony" in International Relations Theories. Development and International Relations Aalborg University, 18.

Virtual Currencies and Terrorist Financing : Assesing the risk and valuating response. Brussels: Policy Department for Citizens' Rights and Constitutional Affairs European Parliament

  • Jan 2018

European Parliament. (2018). Virtual Currencies and Terrorist Financing : Assesing the risk and valuating response. Brussels: Policy Department for Citizens' Rights and Constitutional Affairs European Parliament.

  • Jan 2015
  • INT SECURITY
  • 120-156
  • M P Friedman
  • T Long

Friedman, M. P. and Long, T. (2015 ). Soft balancing in the Americas: Latin American opposition to U.S. intervention, 1898 -1936. International Security, 120-156.

Recommended publications

Portugal: actualidad y futuro del regadio

L. S. Pereira

Se analiza el desarrollo del regadío en Portugal, dentro de una perspectiva global referida a los sistemas de riego, a la gestión del agua en agricultura y a la gestión de los recursos hidráulicos. Se parte de la caracterización del país desde el punto de vista de la necesidad del regadío, analizando los resultados del balance hidráulico secuencial mensual y considerando las regiones . [Show full abstract] hidrográficas como unidades de análisis. A continuación, se dan los resultados de las estimaciones realizadas en las áreas de regadío y de las perspectivas de su evolución para los próximos 20 y 40 años, analizando los criterios adoptados y los resultados obtenidos. Posteriormente, se hace un análisis de las correspondientes necesidades de agua, confrontando estos resultados con las disponibilidades hidráulicas estimadas para cada región, para ejemplificar la coherencia de los resultados cuando se aplican a un análisis más preciso de la situación, se presenta el estudio de un caso real, el de la Cuenca del Ave.

Développement d'un Capteur Magnétique pour la Protection des Réseaux Souterrains

Fabien Belloir

Danielle Nuzillard

Sections de rattachement : 61 & 63 Secteur : Secondaire RÉSUMÉ. Dans cet article nous présentons un système magnétique novateur permettant la détection et l'identification des nouveaux réseaux enfouis. Ce système est composé d'un capteur identifiant des codes magnétiques intégrés dans les grillages avertisseurs actuellement utilisés pour l'identification de la nature des canalisations enterrées. . [Show full abstract] Le détecteur électromagnétique est de type balance d'induction, il émet une onde sinusoïdale de fréquence f 0 et capte les harmoniques éventuels générés par la présence des codes magnétiques conçus dans un matériau de type nanocristallins à très forte perméabilité. Le traitement des signaux reçus permet ainsi l'identification et donc la protection des réseaux sans nécessité de fouilles. MOTS-CLÉS : Détection, Identification, Protection, Capteur magnétique, Balance d'induction, Matériaux nanocristallin, Codage, Traitement du signal, Reconnaissance de Formes.

Analisis Preferensi Calon Investor Dan Pengaruhnya Terhadap Strategi Investasi Untuk Reksa Dana Di C.

Penelitian ini menanggapi isu tentang preferensi calon investor yang diukur dengan variabel-variabel preferensi waktu, minat investasi, pengetahuan investasi. pengendalian diri, sikap menuju pengambilan resiko investasi, pengendalian keuangan dan perencanaan, serta situasi ekonomi dan pengaruhnya terhadap setiap strategi investasi untuk reksa dana di Citibank Medan. Hal ini disebabkan oleh . [Show full abstract] sebelum membuat apapun keputusan untuk berinvestasi, calon investor harus benar-benar mengerti resiko dari setiap strategi investasi dan manfaatnya, menentukan bahwa investasi adalah konsisten dengan tujuan investasi calon investor sehingga calon investor bisa mengasumsikan resiko. Disini dihipotesiskan bahwa setiap variabel preferensi waktu, minat investasi, pengetahuan investasi, pengendalian diri, sikap menuju pengambilan resiko investasi, pengendalian keuangan dan perencanaan, serta situasi ekonomi mempengaruhi masing-masing strategi investasi. Analisis difakukan berdasarkan pada data dari 151 calon investor dibagi dalam 6 kelompok strategi investasi yaitu risk averse, income, conservative, balanced, growth dan enhanced growth. Calon investor terdiri dari manajer di beberapa perusahaan besar di Medan yang berada di middle- up level dan profesionai seperti dokter, system analist, notaris, broker, dan pengusaha. Secara simultan variabel-variabel preferensi calon investor mempengaruhi setiap strategi investasi untuk reksadana di Citibank Medan. Sedangkan secara partial variabel yang signifikan pada ?=0.05 untuk strategi investasi risk averse yaitu variabel minat investasi, pengetahuan investasi, pengendalian diri dan sikap menuju pengambilan resiko investasi, untuk strategi investasi conservative yaitu variabel preferensi waktu dan pengetahuan investasi, untuk strategi investasi balanced yaitu variabel pengetahuan investasi, dan situasi ekonomi, untuk strategi investasi enhanced growth yaitu variabel minat investasi, dan situasi ekonomi. 037019009

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *